Mukhlis.Net

Ketika Abiel Menunduk

Ada satu kebiasaan Abiel yang baru saya sadari setelah cukup lama bersamanya.

Ketika tidak berteriak, ia sering menunduk.

Bukan menunduk sebentar lalu kembali menatap orang di depannya. Ia bisa cukup lama berada dalam posisi itu, kepala sedikit turun, pandangan tidak bertemu dengan siapa pun.

Kalau baru mengenalnya, orang mungkin akan berkata,

“Abiel malu, ya?”

Saya pun pernah berpikir begitu.

Ia memang terlihat seperti anak yang malu.

Apalagi jika beberapa menit sebelumnya ia baru saja berteriak atau tangannya sempat mengenai orang yang berdiri terlalu dekat.

Setelah keadaan mereda, Abiel seperti menjadi anak yang berbeda.

Tidak ada suara keras.

Tidak ada tangan yang bergerak cepat.

Ia hanya berdiri atau duduk dengan kepala tertunduk.

Diam.

Dan justru di saat-saat seperti itulah saya sering merasa paling tidak tahu apa-apa tentang dirinya.

Kami, orang dewasa, terbiasa hidup dengan kata-kata.

Kalau lapar, kita bilang lapar.

Kalau marah, kita bisa mengatakan sedang marah.

Kalau takut, setidaknya kita mempunyai kata untuk menyebutnya.

Bahkan ketika memilih diam, kita sebenarnya tahu kata-kata apa yang sedang kita tahan.

Abiel tidak memiliki kemudahan itu.

Saat itu ia belum menggunakan bahasa lisan untuk berkomunikasi.

Saya tidak bisa bertanya,

“Kenapa tadi berteriak?”

lalu berharap ia menjawab.

Saya tidak bisa mengatakan,

“Kamu takut Ibu pergi, ya?”

kemudian menunggu ia mengangguk sambil menjelaskan perasaannya.

Tidak ada percakapan seperti itu.

Ada saya.

Ada Abiel.

Dan sering kali ada keheningan yang tidak bisa segera saya terjemahkan.

Kadang saya mendekat.

Abiel tetap menunduk.

Saya memanggil namanya.

“Abiel.”

Tidak ada jawaban.

Saya mencoba lagi.

“Abiel…”

Tetap tidak ada kata.

Dulu saya merasa harus selalu mendapatkan respons.

Sebagai guru, rasanya aneh berbicara kepada seorang anak tanpa mendapat jawaban yang biasa kita kenal.

Kita terbiasa menganggap komunikasi terjadi ketika seseorang mengatakan sesuatu lalu orang lain membalas.

Tetapi bersama Abiel, saya mulai belajar bahwa percakapan tidak selalu berjalan seperti itu.

Kadang saya hanya perlu berada di dekatnya.

Tidak memaksa.

Tidak menuntut ia menatap saya.

Tidak buru-buru meminta sesuatu darinya.

Hanya berada di sana.

Pada masa-masa awal, teriakan Abiel membuat perhatian kami tertuju pada hal-hal besar.

Jangan sampai temannya terkena pukulan.

Jangan sampai ia terlalu gelisah.

Pastikan ibunya masih bisa membantu jika keadaan sulit.

Kami sibuk dengan hal-hal yang terlihat.

Tetapi semakin lama bersamanya, saya justru mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Bagaimana ia menjadi tenang.

Bagaimana tubuhnya berubah setelah ibunya kembali terlihat.

Bagaimana kepalanya kemudian turun.

Bagaimana ia bisa diam begitu lama setelah sebelumnya seolah seluruh tubuhnya dipenuhi kegelisahan.

Saya mulai bertanya-tanya.

Apakah menunduk adalah caranya menenangkan diri?

Apakah ia lelah?

Apakah ia sedang menghindari terlalu banyak rangsangan?

Atau memang benar ia merasa malu?

Saya tidak tahu.

Dan akhirnya saya belajar menerima tiga kata itu.

Saya tidak tahu.

Aneh rasanya.

Guru biasanya dituntut tahu.

Orang tua bertanya, guru menjawab.

Ada perilaku, guru menganalisis.

Ada masalah, guru mencari solusi.

Tetapi bersama Abiel, banyak hal justru dimulai ketika saya berani mengakui bahwa saya belum tahu.

Saya belum tahu mengapa ia menunduk.

Saya belum tahu persis apa yang ia rasakan ketika ibunya menghilang dari pandangan.

Saya bahkan belum tahu apakah cara saya mendekatinya sudah benar.

Tetapi tidak tahu bukan berarti berhenti.

Justru dari ketidaktahuan itu, saya mulai lebih banyak mengamati.

Suatu hari, setelah teriakan yang cukup panjang, Abiel kembali tenang.

Ibunya sudah berada di dekatnya.

Teman-teman mulai melanjutkan aktivitas.

Kelas perlahan kembali seperti biasa.

Abiel duduk.

Kepalanya menunduk.

Saya memperhatikannya dari tempat saya berdiri.

Ada keinginan untuk segera mengajaknya melakukan sesuatu.

Memberi tugas.

Memanggil namanya.

Membuatnya kembali terlibat.

Tetapi entah kenapa hari itu saya memilih tidak melakukannya.

Saya membiarkannya sebentar.

Beberapa menit.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia tetap menunduk.

Dan untuk pertama kalinya saya tidak merasa harus membuat sesuatu terjadi.

Mungkin ia sedang membutuhkan waktu.

Mungkin itu caranya kembali tenang.

Jadi saya menunggu.

Hal sederhana.

Tetapi kemudian saya sadar bahwa menunggu ternyata tidak mudah.

Sebagai guru, kita terbiasa bergerak.

Mengarahkan.

Membantu.

Memperbaiki.

Kalau anak tidak melakukan sesuatu, kita dorong.

Kalau tidak menjawab, kita ulangi pertanyaan.

Kalau tidak mampu, kita bantu.

Padahal ada saat-saat ketika anak tidak membutuhkan tangan yang segera menariknya.

Ia membutuhkan waktu.

Abiel mulai mengajarkan itu kepada saya jauh sebelum saya mampu menamainya sebagai sebuah pelajaran.

 

Semakin hari saya semakin menyadari bahwa teriakan Abiel adalah bagian yang paling mudah didengar.

Ia keras.

Semua orang tahu ketika itu terjadi.

Tetapi Abiel yang menunduk jauh lebih mudah terlewatkan.

Tidak mengganggu siapa-siapa.

Tidak membuat kelas berhenti.

Tidak membuat guru harus menjaga teman di dekatnya.

Ia hanya diam.

Dan mungkin karena diam itulah orang tidak merasa perlu memperhatikannya.

Padahal saya mulai berpikir, jangan-jangan justru di situlah ada banyak hal yang belum kami pahami.

Teriakan memberitahu kami bahwa sesuatu sedang tidak baik.

Tetapi diam tidak selalu berarti semuanya sudah selesai.

Seorang anak bisa berhenti berteriak tetapi masih membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman.

Saya mulai belajar tidak mengukur keadaan Abiel hanya dari ada atau tidaknya suara.

Tenang bukan sekadar tidak berteriak.

Tenang adalah ketika tubuhnya mulai kembali menerima keadaan di sekitarnya.

Dan untuk mencapai itu, ia mempunyai waktunya sendiri.

 

Ibunya tentu jauh lebih lama mengenal semua itu daripada saya.

Ia tidak menggunakan istilah rumit untuk menjelaskan Abiel.

Tidak perlu.

Ia mengenal anaknya melalui kehidupan sehari-hari.

Ia tahu makanan yang bisa diterimanya.

Ia tahu kapan Abiel mulai gelisah.

Ia tahu bahwa kalau keadaan sudah terlalu sulit, kehadirannya bisa membuat Abiel lebih tenang.

Saya sempat berpikir, mungkin itulah sebabnya hubungan mereka begitu kuat.

Mereka telah bertahun-tahun belajar membaca satu sama lain tanpa banyak kata.

Ibu tidak membutuhkan Abiel mengatakan,

“Saya takut.”

Ia cukup mendengar perubahan suara anaknya.

Ia tidak perlu Abiel berkata,

“Saya tidak nyaman.”

Tubuh anaknya sudah memberitahunya.

Masalahnya, dunia tidak akan selalu mempunyai seorang ibu yang bisa menerjemahkan Abiel.

Di sekolah, ia harus bertemu guru.

Teman.

Orang-orang yang mungkin belum mengenal kebiasaannya.

Suatu hari ia akan bertemu lingkungan yang sama sekali baru.

Dan pikiran itu mulai membuat saya memahami mengapa kemandirian yang diinginkan ibunya jauh lebih besar daripada sekadar bisa ditinggal di sekolah.

Abiel perlu mempunyai cara untuk hidup di dunia yang tidak selalu mampu langsung memahaminya.

 

Saya mulai berhenti bertanya,

“Kenapa Abiel seperti ini?”

Pertanyaan itu terlalu besar dan tidak banyak membantu.

Saya menggantinya dengan pertanyaan yang lebih kecil.

Apa yang terjadi sebelum ia berteriak?

Apa yang membuatnya lebih tenang?

Kapan tangannya mulai bergerak?

Apa yang berubah ketika ibunya kembali?

Berapa lama ia membutuhkan waktu setelah semuanya selesai?

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu tidak langsung membuat saya mengerti Abiel.

Tetapi setidaknya membuat saya berhenti menebak-nebak terlalu cepat.

Termasuk ketika ia menunduk.

Saya tidak lagi buru-buru mengatakan,

“Dia malu.”

Saya cukup melihatnya.

Abiel sedang menunduk.

Itulah fakta yang saya punya.

Perasaannya adalah miliknya.

Saya boleh mencoba memahami, tetapi saya tidak berhak merasa selalu tahu.

Suatu pagi saya duduk tidak jauh darinya.

Hari itu relatif tenang.

Ibunya masih berada di sekitar sekolah.

Abiel tidak berteriak.

Ia kembali menunduk seperti biasa.

Saya memandangnya beberapa saat.

Lalu tanpa sadar saya tersenyum.

Bukan karena ada pencapaian besar.

Tidak ada.

Kami bahkan masih berada sangat jauh dari target yang suatu hari ingin kami capai.

Abiel masih membutuhkan ibunya.

Masih belum mampu makan sendiri.

Masih bisa berteriak ketika ibunya tidak terlihat.

Tetapi sesuatu mulai berubah.

Bukan pada Abiel.

Pada saya.

Saya mulai tidak terlalu sibuk meminta Abiel masuk ke cara kami berkomunikasi.

Saya yang harus mulai mendekati caranya.

Saya harus belajar bahwa suara keras bisa berarti ketakutan.

Bahwa pukulan bisa muncul ketika kegelisahan sudah tidak mempunyai jalan.

Bahwa kepala yang menunduk belum tentu meminta saya untuk segera mengangkatnya.

Dan bahwa seorang anak yang tidak berbicara bukan berarti tidak mempunyai sesuatu untuk disampaikan.

Saya hanya harus belajar mendengar dengan cara yang berbeda.

Mungkin itulah kesalahan pertama banyak dari kami ketika bertemu anak seperti Abiel.

Kami terlalu sibuk menunggu kata-kata.

Padahal mereka sudah berbicara melalui banyak hal.

Tubuh.

Suara.

Kebiasaan.

Penolakan.

Keheningan.

Kami saja yang belum mengerti bahasanya.

Hari itu saya membiarkan Abiel menunduk sedikit lebih lama.

Saya tidak memanggilnya lagi.

Tidak meminta ia melihat saya.

Tidak buru-buru menariknya masuk ke aktivitas berikutnya.

Saya hanya duduk di dekatnya.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya keheningan di antara kami tidak terasa kosong.

Saya mulai merasa bahwa kami sedang saling mengenal.

Pelan-pelan.

Tanpa kata.

Saya belum bisa memahami bahasa Abiel.

Tetapi setidaknya, sejak hari itu, saya berhenti menganggap bahwa ia tidak sedang berbicara.

Karena ternyata Abiel tidak pernah benar-benar diam.

Kamilah yang harus belajar bagaimana mendengarnya.

 

Exit mobile version