Guru Malas

Kopi Terakhir Bagian II – Surat di Balik Stoples Kopi

Sudah empat puluh hari Arman pergi, tetapi Rina masih membuatkan kopi setiap pagi.

Kebiasaan itu telah menjadi semacam doa yang tidak pernah selesai.

Ia menjerang air sebelum matahari terbit, mengambil gelas putih dengan retakan kecil di dekat pegangannya, lalu menuangkan satu sendok kopi dan satu sendok gula. Setelah itu, ia meletakkannya di tempat Arman biasa duduk.

“Mas, kopinya sudah jadi.”

Kalimat itu selalu diucapkannya, meskipun ia tahu tidak akan ada jawaban.

Pagi itu, kopi di dalam stoples tinggal sedikit. Rina berniat memindahkan isinya ke wadah yang lebih kecil. Saat mengangkat stoples dari rak, tangannya tidak sengaja menyenggol sebuah kotak kayu tipis yang tersembunyi di belakangnya.

Kotak itu jatuh.

Tutupnya terbuka dan beberapa lembar kertas berserakan di lantai.

Rina berjongkok untuk memungutnya. Di antara kertas-kertas tersebut, terdapat sebuah amplop cokelat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Untuk Rina.

Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.

Tangannya gemetar ketika membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah buku tabungan atas nama mereka berdua.

Rina membuka surat tersebut perlahan.

Rin,

Kalau kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah cukup berani untuk memberikannya kepadamu. Atau mungkin aku justru tidak pernah berani sama sekali.

Rina berhenti membaca.

Dadanya mendadak sesak.

Ia menarik kursi Arman, lalu duduk sambil menggenggam surat itu dengan kedua tangan.

Aku tahu akhir-akhir ini kita tidak banyak berbicara. Kita tinggal di rumah yang sama, tidur di tempat yang sama, tetapi rasanya seperti berjalan di dua jalan yang semakin berjauhan.

Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin aku terlalu pendiam. Mungkin aku selalu mengatakan tidak apa-apa, sampai kamu benar-benar percaya bahwa semuanya memang baik-baik saja.

Air mata Rina mulai menggenang.

Ia melanjutkan membaca.

Beberapa kali aku meminta dibuatkan kopi bukan karena aku tidak bisa membuatnya sendiri. Kamu benar, aku punya tangan. Aku tahu tempat kopi dan gulanya.

Aku hanya ingin kamu duduk sebentar bersamaku.

Aku ingin kita mengobrol sebelum pekerjaan, telepon, dan kesibukan mengambil seluruh perhatianmu. Aku ingin mendengar ceritamu. Aku juga ingin menceritakan ketakutanku.

Rina menutup mulutnya untuk menahan isak.

Malam ketika Arman pulang dengan wajah pucat kembali hadir dalam ingatannya. Suara hujan, langkah kaki menuju dapur, dan denting sendok yang hanya berputar tiga kali.

Ternyata malam itu bukan pertama kalinya Arman ingin mengatakan sesuatu.

Selama ini, lelaki itu telah berkali-kali mencoba mengetuk hatinya melalui permintaan yang sangat sederhana.

Dan berkali-kali pula Rina membiarkannya berdiri di luar.

Aku sudah beberapa kali merasakan sakit di dada. Kadang napasku terasa pendek saat menaiki tangga. Aku ingin mengajakmu ke rumah sakit, tetapi setiap kali melihatmu sibuk, aku merasa masalahku hanya akan menambah bebanmu.

Jangan marah karena aku tidak mengatakannya dengan tegas. Aku hanya takut kamu menjawab, “Nanti saja.”

Surat di tangan Rina bergetar hebat.

“Kenapa, Mas?” tangisnya pecah. “Kenapa kamu tidak memaksaku mendengarkan?”

Namun segera setelah mengucapkannya, Rina tahu bahwa pertanyaan itu tidak adil.

Arman sudah mencoba.

Ia yang tidak pernah benar-benar mendengar.

Rina memandangi meja makan. Di atasnya, kopi yang baru dibuat masih mengepulkan uap tipis.

Dahulu Arman duduk di kursi itu sambil memegang gelas dengan kedua tangan. Rina selalu mengira suaminya hanya menikmati hangatnya kopi.

Kini ia mengerti, mungkin Arman sedang menenangkan dirinya sendiri.

Mungkin ada banyak kalimat yang ingin disampaikan, tetapi menguap bersama kopi yang dibuatnya sendirian.

Rina kembali membaca.

Buku tabungan yang kusimpan bersama surat ini adalah tabungan kita. Aku menyisihkan sedikit demi sedikit karena ingin mengajakmu pergi ke tempat pertama kali kita bertemu.

Aku masih ingat warung kopi kecil di dekat terminal itu. Kamu memesan cokelat panas, lalu menertawakanku karena kopiku terlalu pahit. Hari itu kamu berkata, kalau kita menikah nanti, kamu akan belajar membuatkan kopi untukku.

Rina memejamkan mata.

Ia mengingat hari itu.

Dua belas tahun lalu, Arman duduk di hadapannya dengan kemeja biru yang kebesaran. Lelaki itu gugup hingga salah memasukkan garam ke dalam kopinya. Rina tertawa begitu keras, kemudian mengambilkan gula.

“Kalau nanti kita menikah, aku yang buatkan kopi,” kata Rina saat itu.

“Setiap hari?”

“Setiap hari.”

Janji tersebut pernah ada.

Namun setelah pernikahan, pekerjaan, tagihan, dan rutinitas datang silih berganti, janji itu perlahan menghilang. Bukan karena sulit dilakukan, melainkan karena Rina merasa masih ada hari esok untuk menepatinya.

Ia tidak pernah menyangka hari esok dapat berhenti datang bagi salah satu dari mereka.

Aku ingin mengajakmu kembali ke sana pada ulang tahun pernikahan kita. Aku ingin memulai semuanya dari awal.

Aku ingin meminta maaf kalau selama ini cintaku terasa membosankan. Aku memang tidak pandai memberi kejutan. Aku hanya tahu cara menjemputmu ketika hujan, memanaskan makananmu, memastikan pintu terkunci, dan membuatkan cokelat hangat karena kamu tidak suka kopi.

Mungkin caraku mencintaimu terlalu sederhana hingga tidak terlihat.

Air mata Rina jatuh membasahi tulisan Arman.

Ia mengusapnya dengan tergesa-gesa, takut tinta surat itu luntur. Namun bekas air mata telah meninggalkan noda pada beberapa kata.

Rina membaca bagian terakhir dengan pandangan kabur.

Kalau suatu hari kita berhasil memperbaiki semuanya, aku hanya punya satu permintaan.

Buatkan aku secangkir kopi.

Bukan setiap hari. Sekali saja cukup.

Aku ingin tahu bagaimana rasanya menerima sesuatu yang dibuat oleh orang yang paling aku cintai.

Arman.

Rina tidak mampu melanjutkan apa pun.

Ia memeluk surat itu dan menangis di atas meja makan. Tangisnya begitu keras, seolah-olah seluruh kesedihan yang selama empat puluh hari ditahannya akhirnya menemukan jalan keluar.

“Bangunlah sekali saja, Mas,” pintanya di antara isak. “Aku sudah membuatkan kopimu.”

Kursi di hadapannya tetap kosong.

“Sekali saja duduk di sini.”

Tidak ada jawaban.

“Aku akan mendengarkan semuanya. Aku tidak akan memegang telepon. Aku tidak akan menonton televisi. Aku janji.”

Hanya bunyi detik jam dinding yang menemaninya.

Kopi di atas meja perlahan kehilangan uapnya.

Untuk kesekian kalinya, Rina terlambat.

Siang itu, ia pergi ke makam Arman sambil membawa termos kecil dan dua buah gelas. Langit mendung, seperti sedang menahan hujan.

Rina duduk di samping pusara suaminya. Ia membersihkan beberapa helai daun kering yang jatuh di atas tanah, kemudian mengeluarkan surat Arman dari dalam tas.

“Aku sudah membacanya, Mas.”

Suaranya bergetar.

“Aku juga menemukan tabungan kita.”

Rina menuangkan kopi ke dalam gelas putih milik Arman. Aroma hangatnya terbawa angin.

“Kamu masih ingat warung itu. Sedangkan aku bahkan hampir lupa pernah berjanji membuatkanmu kopi setiap hari.”

Ia meletakkan gelas tersebut di dekat batu nisan.

“Maafkan aku.”

Hujan mulai turun rintik-rintik.

“Maaf karena selalu menganggap perhatianmu sebagai sesuatu yang biasa.”

Rina menyentuh nama Arman yang terukir pada batu nisan.

“Maaf karena aku baru memahami caramu mencintaiku setelah tidak ada lagi kamu yang bisa kucintai.”

Hujan semakin deras, tetapi Rina tidak beranjak. Air membasahi rambut dan pakaiannya. Kopi yang dibawanya bercampur dengan air hujan, meluap dari gelas, lalu meresap ke tanah.

Rina tidak berusaha menyelamatkannya.

Ia hanya duduk di sana, membiarkan hujan menyembunyikan air matanya.

Beberapa hari kemudian, Rina pergi seorang diri ke warung kopi tempat mereka pertama kali bertemu.

Warung itu telah banyak berubah. Dindingnya kini dicat putih. Meja kayu yang dahulu mereka gunakan sudah tidak ada. Pemiliknya pun telah berganti.

Rina memilih tempat duduk di dekat jendela.

“Mau pesan apa, Bu?” tanya seorang pelayan.

“Satu kopi dan satu cokelat hangat.”

“Menunggu seseorang?”

Rina memandang kursi kosong di hadapannya.

“Iya.”

Pelayan itu mengangguk, lalu pergi tanpa bertanya lebih jauh.

Ketika pesanannya datang, Rina meletakkan kopi di seberang meja dan cokelat hangat di hadapannya. Ia mengeluarkan surat Arman, membukanya kembali, lalu membaca setiap kalimat secara perlahan.

Di luar, orang-orang berlalu-lalang. Kendaraan datang dan pergi. Kehidupan terus bergerak, seolah-olah dunia tidak pernah kehilangan siapa pun.

Rina tersenyum pahit.

“Mas, akhirnya kita kembali ke sini.”

Ia menyentuh cangkir kopi di hadapannya.

“Kopinya kubuatkan sendiri dari rumah. Aku tidak tahu rasanya sudah benar atau belum.”

Rina menunggu beberapa saat.

Dalam keheningan itu, ia hampir dapat membayangkan Arman duduk di hadapannya. Kemeja biru yang kebesaran. Senyum gugup. Kedua tangan memegang gelas hangat.

Namun bayangan itu menghilang ketika seseorang membuka pintu warung.

Rina kembali sendirian.

Sebelum pulang, ia menuangkan kopi milik Arman ke dalam cangkirnya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia mencampurkan kopi dengan cokelat hangat yang biasa diminumnya.

Rasanya asing—pahit dan manis menyatu dalam satu tegukan.

Seperti kenangan tentang pernikahan mereka.

Ada cinta yang begitu tulus.

Ada luka yang terlalu lama disembunyikan.

Dan ada penyesalan yang akan dibawanya sepanjang hidup.

Sejak hari itu, Rina tidak lagi membuat kopi untuk diletakkan di kursi kosong. Ia sadar bahwa Arman tidak membutuhkan kopi yang terus dibiarkan dingin.

Namun setiap pagi, ia tetap membuat satu cangkir untuk dirinya sendiri.

Rina akan duduk di tempat Arman biasa duduk, mematikan telepon, dan menikmati kopi itu perlahan. Di sanalah ia mengenang semua bentuk cinta sederhana yang dahulu luput dari perhatiannya.

Pintu yang selalu dikunci Arman sebelum tidur.

Makanan yang selalu dipanaskan.

Payung yang selalu dibawa ketika hujan.

Dan secangkir cokelat hangat yang tidak pernah lupa dibuatkan untuknya.

Rina akhirnya memahami bahwa kehilangan tidak selalu datang untuk menghukum.

Kadang kehilangan datang untuk mengajarkan nilai dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Sayangnya, beberapa pelajaran baru dipahami setelah orang yang mengajarkannya tidak lagi dapat dipeluk.

Pada suatu pagi, Rina membuka jendela dapur. Cahaya matahari jatuh tepat di atas meja makan. Ia menuangkan kopi, mengaduknya tiga kali, kemudian menatap kursi kosong di hadapannya.

“Selamat pagi, Mas.”

Angin masuk perlahan dan menggerakkan tirai.

Rina memejamkan mata.

Untuk sesaat, ia merasa mendengar suara Arman menjawab dari kejauhan.

“Pagi, Rin.”

Ketika membuka mata, kursi itu tetap kosong.

Namun kali ini Rina tidak menangis.

Ia mengangkat cangkir dengan kedua tangan, seperti yang dahulu dilakukan Arman, lalu menyesap kopi tersebut perlahan.

Rasanya masih pahit.

Hanya saja, kini Rina tidak menambahkan gula.

Sebab ia ingin mengingat rasa penyesalan itu apa adanya—agar tidak pernah lagi menunda perhatian, mengabaikan permintaan sederhana, atau menganggap orang yang dicintainya akan selalu mempunyai waktu.

Di bawah gelasnya, surat Arman masih terbuka.

Pada bagian terakhir, terdapat satu kalimat kecil yang dahulu tidak dilihat Rina karena tertutup oleh lipatan kertas.

Kalau nanti kopi buatanmu terasa pahit, jangan khawatir. Selama kamu yang membuatnya, aku pasti akan menghabiskannya.

Rina menempelkan surat itu ke dadanya.

Dan pagi yang semula tenang kembali dipenuhi tangis.

Bukan karena Arman tidak sempat meminum kopi buatannya.

Namun karena akhirnya Rina mengetahui bahwa, bagi Arman, cinta darinya tidak pernah dituntut sempurna.

Cinta itu hanya perlu diberikan ketika masih ada seseorang yang menunggu untuk menerimanya.

Exit mobile version