Setiap pagi, suara denting sendok dari dapur membangunkan Rina.
Bukan suara piring yang sedang disiapkan untuk sarapan. Bukan pula suara gelas yang sengaja diletakkan di meja untuknya. Itu suara Arman mengaduk kopi buatannya sendiri.
Satu sendok kopi. Dua sendok gula. Air panas hampir memenuhi gelas.
Rina hafal betul urutannya, meskipun selama dua belas tahun pernikahan mereka, ia hampir tidak pernah membuatkan kopi untuk suaminya.
“Buat sendiri, ya. Aku masih mengantuk,” katanya suatu pagi.
Arman hanya tersenyum.
“Iya. Tidur saja lagi.”
Pada pagi yang lain, Rina sibuk menatap layar teleponnya. Arman berdiri di dekat pintu dapur, sudah mengenakan seragam kerja.
“Rin, buatkan kopi, boleh?”
“Airnya tinggal dipanaskan. Buat sendiri saja, Mas. Aku sedang membalas pesan.”
“Baik.”
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada wajah masam. Arman masuk ke dapur, menyalakan kompor, lalu membuat kopinya sendiri.
Begitulah hampir setiap pagi.
Permintaan kecil itu selalu dijawab dengan penolakan kecil. Namun Rina tidak pernah menganggapnya penting. Baginya, membuat kopi bukan ukuran cinta. Arman mempunyai tangan sendiri. Ia juga tahu letak kopi, gula, dan gelas.
Lagi pula, bukankah Arman selalu mengatakan tidak apa-apa?
Rina tidak menyadari bahwa kalimat tidak apa-apa yang terlalu sering diucapkan seseorang kadang bukan berarti ia tidak terluka. Bisa jadi, ia hanya sedang belajar menerima bahwa keinginannya tidak dianggap penting.
Arman memang tidak pernah memaksa.
Ketika Rina sakit, lelaki itu membuatkan teh hangat dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Ketika Rina pulang terlambat, Arman memanaskan makanan tanpa banyak bertanya.
Ketika hujan turun dan Rina lupa membawa payung, Arman menjemputnya meskipun tubuhnya sendiri menggigil kedinginan.
Bahkan pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Arman masih membuat dua cangkir minuman. Kopi untuk dirinya, cokelat hangat untuk Rina.
“Kamu masih ingat aku tidak suka kopi?” tanya Rina sambil tersenyum.
Arman mengangguk.
“Aku ingat semua yang kamu suka.”
Rina tidak pernah bertanya apakah Arman bahagia karena ia juga mengingat hal-hal kecil tentang suaminya.
Ia tahu Arman menyukai kopi yang tidak terlalu manis. Ia tahu suaminya selalu memegang gelas dengan kedua tangan ketika sedang gelisah. Ia tahu aroma kopi membuat lelaki itu merasa dekat dengan almarhum ayahnya.
Rina tahu semuanya.
Namun mengetahui ternyata tidak selalu berarti peduli.
Suatu malam, hujan turun sangat deras. Arman pulang dengan pakaian basah dan wajah pucat. Ia meletakkan tas kerja, lalu duduk di kursi makan sambil memijat pelipis.
“Rin,” panggilnya pelan.
Rina sedang menonton acara kesukaannya di ruang tengah.
“Apa?”
“Boleh buatkan aku kopi hangat?”
Rina tidak menoleh.
“Nanti, ya. Sedang seru.”
Arman terdiam.
Beberapa menit kemudian, Rina mendengar suara kursi bergeser. Disusul langkah kaki menuju dapur. Lalu bunyi tutup stoples dibuka.
Seperti biasa, Arman membuat kopinya sendiri.
Namun malam itu suara sendok yang beradu dengan dinding gelas terdengar lebih lambat. Hanya tiga putaran, kemudian berhenti.
Rina baru pergi ke dapur hampir satu jam kemudian. Ia melihat Arman tertidur di meja makan dengan kepala bertumpu pada lengannya. Di hadapannya, secangkir kopi masih utuh. Uapnya telah hilang.
“Mas, kalau mengantuk, tidur di kamar,” katanya sambil menggoyangkan bahu suaminya.
Tubuh Arman terasa dingin.
“Mas?”
Tidak ada jawaban.
Rina menggoyangkannya lebih keras.
“Mas Arman?”
Gelas di atas meja tersenggol. Kopi tumpah, mengalir ke tepi meja, lalu menetes satu demi satu ke lantai.
Malam itu, suara sirene ambulans membelah hujan. Rina duduk di samping tubuh suaminya sambil menggenggam tangan yang semakin dingin.
“Mas, bangun. Kopinya belum diminum.”
Untuk pertama kalinya, Rina berharap Arman membuka mata dan berkata bahwa semuanya tidak apa-apa.
Namun kali ini, Arman tidak mengatakannya.
Dokter menyebut serangan jantung. Terlambat ditangani. Mungkin kelelahan, mungkin juga ada keluhan yang selama ini disembunyikan.
Rina tidak benar-benar mendengar penjelasan berikutnya.
Pikirannya tertinggal di meja makan, pada secangkir kopi yang tidak sempat diminum dan sebuah permintaan sederhana yang kembali ia abaikan.
Hari-hari setelah pemakaman menjadi terlalu sunyi.
Tidak ada lagi suara alarm pukul lima pagi. Tidak ada suara pintu kamar mandi dibuka. Tidak ada suara batuk kecil dari dapur.
Dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi denting sendok yang mengaduk kopi.
Pada pagi ketujuh setelah kepergian Arman, Rina berdiri di dapur. Tangannya gemetar saat membuka stoples kopi. Aroma yang dulu dianggap biasa mendadak memenuhi dadanya dengan kerinduan yang menyesakkan.
Ia mengambil gelas kesayangan Arman—gelas putih dengan retakan kecil di dekat pegangannya.
Satu sendok kopi.
Dua sendok gula.
Rina berhenti. Ia teringat bahwa beberapa tahun terakhir Arman hanya memakai satu sendok gula karena takut kadar gulanya naik.
Hal sekecil itu pun hampir ia lupakan.
Air matanya jatuh ke atas meja.
Ia menuangkan air panas, kemudian mengaduknya perlahan. Suara denting sendok terdengar persis seperti suara yang dahulu membangunkannya setiap pagi.
Bedanya, kini suara itu tidak mengganggu tidurnya.
Suara itu menghancurkan hatinya.
Rina membawa kopi tersebut ke meja makan dan meletakkannya di tempat Arman biasa duduk.
“Mas, kopinya sudah jadi.”
Kursi di hadapannya kosong.
“Tidak terlalu manis. Seperti yang kamu suka.”
Tidak ada tangan yang meraih gelas itu.
Rina duduk dan menunggu. Entah apa yang ditunggunya. Mungkin langkah kaki dari kamar. Mungkin suara Arman yang mengucapkan terima kasih. Mungkin sebuah keajaiban yang mengembalikan waktu ke malam hujan itu.
Seandainya waktu bisa diulang, ia akan segera mematikan televisi.
Ia akan memanaskan air, mengambilkan gelas, lalu duduk menemani suaminya menghabiskan kopi.
Ia akan bertanya mengapa wajahnya pucat.
Ia akan menyentuh dahinya.
Ia akan membawanya ke rumah sakit lebih cepat.
Ia akan melakukan apa saja—bahkan membuat seribu cangkir kopi—asal Arman kembali.
Namun hidup tidak menerima pembayaran dengan penyesalan.
Sejak hari itu, Rina selalu membuat secangkir kopi setiap pagi.
Satu untuk seseorang yang tidak pernah lagi datang meminumnya.
Tetangga yang berkunjung sering melihat gelas itu terletak di meja makan.
“Untuk siapa kopinya, Bu?” tanya salah seorang dari mereka.
Rina tersenyum, tetapi matanya basah.
“Untuk suami saya.”
“Bukankah beliau sudah—”
“Iya,” potong Rina pelan. “Dulu, ketika masih ada, dia selalu membuat kopinya sendiri. Sekarang saya ingin membuatkannya, meskipun dia sudah tidak bisa meminumnya.”
Kopi itu selalu dibiarkannya hingga dingin.
Menjelang siang, Rina akan membuangnya ke wastafel, mencuci gelas, kemudian meletakkannya kembali di tempat semula. Esok pagi, ia akan mengulangi hal yang sama.
Seolah-olah dengan begitu, ia masih mempunyai kesempatan untuk mencintai Arman.
Padahal ia tahu, yang sedang dilakukannya bukan lagi bentuk pelayanan kepada suami. Itu hukuman yang sengaja ia berikan kepada dirinya sendiri—membuat kopi setiap hari untuk mengingat bahwa ketika lelaki itu masih hidup, ia tidak pernah bersedia meluangkan lima menit untuk melakukannya.
Pada ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga belas, Rina membuat dua cangkir minuman.
Cokelat hangat untuk dirinya.
Kopi untuk Arman.
Ia duduk sendirian di meja makan sambil memandangi kursi kosong di hadapannya.
“Mas,” ucapnya dengan suara bergetar, “aku baru mengerti sekarang.”
Air matanya menetes ke dalam cokelat yang mulai dingin.
“Kamu tidak pernah benar-benar meminta kopi. Kamu hanya ingin merasakan bahwa ada seseorang di rumah ini yang memikirkanmu.”
Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Maaf karena aku terlalu yakin masih punya banyak waktu.”
Angin dari jendela menggoyangkan tirai. Tidak ada jawaban selain bunyi jam dinding dan napas Rina yang tersengal menahan tangis.
Di hadapannya, kopi terakhir itu perlahan kehilangan uapnya.
Sama seperti cinta Arman yang dahulu selalu hangat—diterima tanpa disyukuri, dibiarkan menunggu, lalu baru dirindukan setelah selamanya pergi.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Rina meminum kopi buatan tangannya sendiri.
Rasanya pahit.
Bukan karena ia lupa menambahkan gula, melainkan karena di setiap tegukan ada penyesalan yang tidak mungkin lagi dimaafkan oleh waktu.