Selama tiga puluh tahun, Baskoro adalah lelaki yang tidak menuntut. Namun, ada satu keinginan yang ia simpan serapi lipatan sapu tangannya: ia ingin meminum kopi yang diseduh oleh tangan Lastri, istrinya. Bukan karena ia tak bisa menyalakan kompor, tapi karena baginya, kopi buatan istri adalah bentuk pengakuan paling tenang dalam sebuah rumah tangga.
Setiap pagi, ia sengaja duduk di meja makan, memandangi punggung Lastri yang sibuk dengan cucian atau sarapan. Ia sering memancing dengan gumaman kecil, “Kopi pagi sepertinya nikmat ya, Las?”
Namun, Lastri dengan segala kepraktisan hidup yang telah mengeraskan hatinya hanya akan menjawab tanpa menoleh, “Air sudah mendidih di termos, Mas. Sasetnya ada di kaleng kerupuk. Tinggal tuang, kan?”
Bagi Lastri, kopi hanyalah air hitam panas. Bagi Baskoro, kopi yang diseduhkan adalah tanda bahwa ia masih layak dilayani, bukan sekadar mesin pencari nafkah yang sudah mulai berkarat. Ia merindukan gerak tangan istrinya yang mengaduk gelas, bunyi sendok yang berdenting melawan porselen sebuah simfoni kecil yang menyatakan: Aku ada untukmu.
Gelas Terakhir
Pagi itu, dada Baskoro terasa berat, seolah ada bongkahan batu yang tertanam di paru-parunya. Ia melihat Lastri sedang terburu-buru hendak pergi ke pasar.
“Las,” panggilnya lirih. “Buatkan kopi. Sekali saja.”
Lastri yang sudah mengenakan kerudungnya hanya mendesah tipis, melirik jam dinding. “Aduh, Mas, angkotnya sudah lewat nanti. Itu airnya masih panas di termos. Sebentar saja, kan?”
Pintu depan tertutup. Sunyi kembali meraja.
Baskoro tersenyum pahit. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyeret langkah ke dapur. Ia mengambil cangkir keramik biru kado pernikahan mereka yang sudah retak seribu. Ia merobek bungkus kopi saset, menuangkan air panas, dan mengaduknya sendiri. Ting. Ting. Ting. Bunyinya terdengar kesepian.
Ia membawa gelas itu ke kursi jengki di teras depan. Ia duduk, memandangi jalanan kosong tempat istrinya baru saja berlalu. Diangkatnya gelas itu, menghirup aromanya yang tajam dan artifisial.
“Mungkin memang harus begini,” bisiknya pada angin.
Ia menyesap kopi itu. Cairan panas mengalir di kerongkongannya, namun bersamaan dengan itu, sebuah rematan hebat menghantam jantungnya. Pandangannya mengabur. Cangkir di tangannya tetap digenggam erat, meski tubuhnya mulai kehilangan daya.
Saat Lastri pulang dua jam kemudian, ia menemukan Baskoro masih duduk di sana. Kepalanya terkulai ke samping dengan sisa senyum yang membeku. Gelas biru itu masih berada di pangkuannya, kosong separuh, mendingin bersama napas yang telah pergi.
Di atas meja, sebuah sendok tergeletak sendok yang seharusnya dipegang Lastri, namun pada akhirnya, hanya menjadi saksi bisu dari kemandirian seorang lelaki yang mati dalam dahaga akan kasih sayang yang paling sederhana.