Anak yang Datang dengan Teriakan

Saya tidak ingat persis pakaian apa yang dikenakan Abiel ketika pertama kali kami bertemu. Saya juga tidak ingat pelajaran apa yang seharusnya berlangsung pagi itu.

Yang masih saya ingat sampai sekarang justru suaranya.

Teriakan.

Keras. Berulang. Kadang panjang, kadang terputus sebentar, lalu muncul lagi.

Saat itu Abiel masih kelas empat SD.

Ia datang bersama ibunya, seperti biasa seorang anak datang ke sekolah. Hanya saja, bagi Abiel, masuk ke kelas ternyata tidak sesederhana melewati pintu lalu duduk di kursi.

Ibunya harus ikut.

Selama perempuan itu berada tidak jauh darinya, keadaan masih cukup tenang. Tetapi begitu ibunya mencoba menjauh, Abiel mulai berteriak.

Saya masih belum mengenalnya waktu itu.

Belum tahu kebiasaannya.

Belum tahu apa yang ia sukai.

Belum tahu apa yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman.

Saya hanya tahu bahwa ia anak autis nonverbal. Tidak ada kata yang bisa ia gunakan untuk mengatakan kepada kami apa yang sedang ia rasakan.

Mungkin karena itu, pada hari-hari pertama, saya lebih banyak melihat daripada memahami.

Ibunya bergeser beberapa langkah.

Abiel berteriak.

Ibunya berhenti.

Teriakannya mereda.

Ketika ibunya mencoba pergi lagi dan tidak terlihat dari tempatnya berdiri, suara Abiel kembali pecah.

Kali ini lebih keras.

Kadang ia memukul siapa saja yang kebetulan berada dekat dengannya. Teman bisa terkena. Guru pun bisa.

Bukan karena sebelumnya ada pertengkaran.

Bukan pula karena seseorang mengganggunya.

Semuanya bisa terjadi begitu cepat ketika ibunya tak terlihat.

Pada saat seperti itu, kami tentu waspada. Teman-temannya harus dijaga. Kami juga harus menjaga Abiel.

Tetapi anehnya, ada satu pemandangan lain yang terus tersimpan di kepala saya.

Setelah keadaan tenang, Abiel sering menunduk.

Ia diam.

Kepalanya sedikit tertunduk, seperti anak yang malu.

Entah benar malu atau bukan, saya tidak pernah tahu.

Bahkan sekarang pun saya tidak berani mengatakan bahwa saya benar-benar tahu apa yang ia rasakan saat itu.

Saya hanya melihat seorang anak yang beberapa menit sebelumnya berteriak sekuat tenaga, lalu tiba-tiba menjadi begitu kecil dalam diamnya.

Dan entah mengapa, bagian itulah yang membuat saya tidak tega melihatnya hanya sebagai anak yang “sulit”.

Ada sesuatu yang sedang ia perjuangkan.

Hanya saja kami belum mengerti apa.

Ibunya hampir selalu berada di dekatnya.

Pada mulanya saya menganggap itu sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan. Abiel berteriak kalau ibunya pergi, maka ibunya tinggal.

Sederhana.

Setidaknya kelihatannya begitu.

Namun semakin sering melihat mereka, saya mulai menyadari bahwa kehadiran ibu di sekolah bukan sekadar karena Abiel tidak mau ditinggal.

Ibunya juga sedang memikul sesuatu.

Ia sangat menyayangi Abiel.

Dan seperti kebanyakan orang tua yang mengetahui betul bagaimana anaknya bereaksi ketika cemas, ia mempunyai banyak alasan untuk tidak segera pergi.

Kekhawatiran terbesarnya bukan hanya Abiel menangis atau berteriak.

Ia takut Abiel merepotkan guru.

Lebih dari itu, ia takut Abiel menyakiti temannya.

Saya bisa memahami ketakutan itu.

Setiap kali ia mencoba menjauh dan suara Abiel meninggi, ia seperti mendapat alasan baru untuk tetap berada di sana.

Bagaimana kalau saya pergi lalu dia memukul temannya?

Bagaimana kalau gurunya kewalahan?

Bagaimana kalau saya seharusnya tidak meninggalkannya?

Saya tidak tahu persis seberapa sering pertanyaan-pertanyaan seperti itu ada dalam pikirannya. Tetapi dari caranya selalu sigap ketika Abiel mulai gelisah, saya bisa melihat bahwa pergi dari sekolah bukan perkara mudah baginya.

Apalagi saat itu ia membesarkan Abiel sebagai seorang single parent.

Ada banyak hal yang mungkin tidak saya lihat.

Saya hanya bertemu Abiel beberapa jam di sekolah.

Ibunya menjalani hari-hari bersamanya jauh lebih panjang daripada itu.

Ia pasti sudah mengenal bentuk-bentuk kegelisahan Abiel sebelum kami mengenalnya. Ia tahu kapan harus mendekat. Ia tahu makanan apa yang bisa diterima anaknya. Ia tahu kapan keadaan mulai tidak baik.

Maka ketika kemudian kami berbicara tentang kemandirian, saya sadar itu bukan sekadar persoalan mengatakan:

“Bu, Abiel harus mulai ditinggal.”

Kalimat seperti itu terlalu mudah diucapkan oleh orang yang tidak menjalani kehidupan mereka.

Ada satu hal kecil tentang Abiel yang kemudian juga saya ingat.

Makanan.

Saat itu ia belum bisa makan sendiri.

Dan makanannya cukup khas. Ia lebih menyukai makanan yang kering-kering. Salah satunya kering tempe yang ada kacangnya.

Tidak berkuah.

Tidak basah.

Sederhana.

Sekarang kalau mengingatnya, saya justru tersenyum pada detail itu.

Dulu kami tidak menganggapnya istimewa. Ya, Abiel memang begitu. Kalau makan, harus dibantu. Kalau memilih makanan, lebih mudah yang kering. Kering tempe dengan kacang termasuk yang bisa diterimanya.

Selesai.

Kami tidak tahu bahwa hal kecil semacam itu suatu hari akan menjadi ukuran perjalanan yang begitu panjang.

Sebab pada masa itu, makan sendiri pun belum menjadi sesuatu yang bisa dilakukan Abiel.

Kami masih membantu.

Masih menunggu.

Masih mencari cara.

Sama seperti ketika ibunya harus terus berada di sekolah.

Hari-hari pertama bersama Abiel berlangsung dengan pola yang hampir sama.

Datang bersama ibu.

Masuk kelas.

Berteriak.

Ibu mendekat.

Tenang.

Ibu mencoba menjauh.

Berteriak lagi.

Kadang ada pukulan.

Lalu semuanya mereda.

Abiel kembali menunduk.

Besoknya terulang lagi.

Dan lagi.

Saya lupa kapan tepatnya saya mulai merasa bahwa ada sesuatu yang harus berubah.

Bukan karena kami bosan mendengar teriakannya.

Bukan pula karena saya ingin ibunya segera pulang supaya kegiatan sekolah lebih mudah.

Saya hanya mulai berpikir tentang Abiel yang lebih jauh dari hari itu.

Kalau hari ini ia harus selalu melihat ibunya untuk merasa aman, bagaimana nanti?

Kalau setiap kegelisahan selalu selesai ketika ibu kembali mendekat, kapan ia mempunyai kesempatan untuk mengenal bahwa ada orang lain yang juga bisa dipercaya?

Pertanyaan itu tidak langsung menghasilkan jawaban.

Kami tidak mempunyai rumus.

Tidak ada satu pagi ketika saya datang lalu tiba-tiba tahu apa yang harus dilakukan.

Kami hanya mulai berbicara.

Saya dengan ibunya.

Tentang Abiel.

Tentang rasa takutnya.

Tentang kekhawatiran seorang ibu.

Tentang keinginan sederhana yang sebenarnya dimiliki ibunya sejak awal: ia ingin anaknya mandiri.

Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya luput.

Ibu bukannya tidak ingin meninggalkan Abiel.

Ia ingin.

Hanya saja, setiap kali hendak melakukannya, teriakan anaknya seperti menarik langkahnya kembali.

Dan mungkin Abiel pun sebenarnya bukan sedang berusaha menguasai ibunya agar tetap tinggal.

Ia hanya belum mempunyai cara lain untuk mengatakan bahwa dunia terasa berbeda ketika ibunya tidak ada.

Dua orang itu seperti terikat oleh rasa takut masing-masing.

Abiel takut ibunya hilang dari pandangan.

Ibunya takut sesuatu terjadi kepada Abiel ketika ia tidak ada.

Saya berdiri di antara keduanya, membawa keyakinan seorang guru bahwa seorang anak perlu diberi kesempatan untuk mandiri, tetapi pada saat yang sama saya juga tahu: kepercayaan tidak bisa dipaksa.

Apalagi kepada seorang anak yang belum mempunyai kata untuk mengatakan, “Saya takut.”

Mungkin teriakannya itulah kata-katanya.

Mungkin pukulannya adalah kepanikan yang tidak menemukan jalan lain.

Dan mungkin ketika semua sudah selesai lalu ia menunduk, ada sesuatu yang sedang ia coba tenangkan di dalam dirinya.

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, sejak saat itu saya mulai berhenti hanya mendengar suaranya.

Saya mulai memperhatikan Abiel.

Benar-benar memperhatikannya.

Bukan sekadar anak autis nonverbal yang berteriak di kelas.

Bukan anak yang kadang memukul ketika cemas.

Bukan anak yang belum bisa makan sendiri.

Ia adalah Abiel.

Seorang anak yang pada waktu itu hanya mempunyai sedikit cara untuk membuat kami mengerti.

Dan saya, yang mengira datang ke kelas sebagai orang yang akan mengajarinya banyak hal, perlahan menyadari bahwa mungkin saya yang harus belajar lebih dahulu.

Belajar tentang caranya merasa aman.

Belajar tentang cara ibunya mencintainya.

Belajar menunggu.

Belajar tidak tergesa-gesa menyebut suatu perilaku sebagai masalah sebelum memahami dari mana ia datang.

Perjalanan kami belum dimulai dengan keberhasilan.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada pencapaian besar.

Hanya ada seorang anak kelas empat yang berteriak ketika ibunya tidak terlihat.

Seorang ibu yang masih memilih tinggal karena takut anaknya merepotkan orang lain.

Dan seorang guru yang belum tahu harus mulai dari mana.

Mungkin memang begitu beberapa perjalanan besar dimulai.

Bukan dengan langkah yang mantap.

Tetapi dengan kebingungan.

Dengan rasa takut.

Dan dengan sebuah teriakan yang baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti: mungkin sejak awal Abiel hanya sedang meminta kami untuk tidak terburu-buru meninggalkannya.

Leave a Comment