Hari-hari berikutnya, saya mulai hafal tempat ibu Abiel menunggu.
Tidak selalu persis di kursi yang sama. Kadang ia berada dekat pintu kelas. Kadang sedikit menjauh. Tetapi satu hal hampir tidak berubah: ia harus berada pada jarak yang masih memungkinkan Abiel mengetahui bahwa ibunya belum pergi.
Seolah-olah ada garis tak terlihat di antara mereka.
Selama garis itu tidak terputus, keadaan relatif tenang.
Abiel bisa berada di kelas.
Ia mungkin masih mengeluarkan suara sesekali, masih tampak gelisah, tetapi kehadiran ibunya seperti menjadi penanda bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Masalahnya muncul ketika ibu mulai bergeser terlalu jauh.
Kadang hanya beberapa langkah.
Kadang ia mencoba keluar sebentar.
Dan hampir selalu, Abiel mengetahuinya.
Saya tidak pernah benar-benar memahami bagaimana ia bisa begitu cepat menyadari bahwa ibunya tidak berada di tempat semula.
Mungkin ia melihat.
Mungkin ia mendengar.
Mungkin ia memang terus memastikan keberadaan ibunya dengan caranya sendiri.
Yang jelas, ketika sosok itu tidak terlihat, tubuh Abiel berubah.
Suara yang tadinya lebih rendah mulai meninggi.
Kemudian teriakan itu muncul.
Kami sudah mengenal suara itu.
Dan ibunya lebih mengenalnya daripada siapa pun.
Setiap kali teriakan Abiel mulai berubah, tubuh perempuan itu seperti mempunyai refleks sendiri.
Ia segera berdiri.
Menoleh.
Lalu mendekat.
Tidak perlu menunggu lama.
Begitu ibunya kembali terlihat, keadaan perlahan mereda.
Abiel mungkin belum langsung tenang. Tetapi ia tidak lagi seperti anak yang sedang kehilangan sesuatu.
Saya mulai memahami mengapa ibunya memilih tetap tinggal.
Bukan karena ia tidak mempunyai pekerjaan lain.
Bukan karena ia menikmati duduk berjam-jam di sekolah.
Dan tentu bukan karena ia ingin membuat Abiel terus bergantung kepadanya.
Ia hanya tahu apa yang bisa terjadi ketika dirinya tidak ada.
Suatu hari saya memperhatikannya dari dalam kelas.
Ia sedang duduk tidak jauh dari pintu.
Tidak banyak yang dilakukannya.
Sesekali melihat Abiel.
Sesekali melihat ke arah lain.
Lalu kembali melihat Abiel.
Ada sesuatu yang sangat khas dalam cara orang tua mengawasi anaknya. Tidak selalu berupa tatapan panjang. Kadang hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk memastikan:
masih aman.
Saya tidak tahu berapa banyak pikiran yang memenuhi kepalanya saat itu.
Saya hanya tahu apa yang pernah ia sampaikan kepada kami.
Ia takut Abiel merepotkan guru.
Ia takut anaknya memukul teman.
Ketakutan itu masuk akal.
Saya sendiri sudah melihatnya.
Ketika Abiel panik, orang yang berada paling dekat dengannya bisa terkena pukulan. Tidak ada niat jahat yang bisa saya baca dari sana. Kejadiannya begitu cepat. Tangan bergerak ketika kegelisahan sudah terlalu penuh.
Tetapi bagi seorang ibu, akibatnya tetap sama.
Anaknya bisa melukai orang lain.
Dan mungkin, bagi orang tua, ada rasa tidak enak yang sulit dijelaskan ketika anak kita membuat orang lain kesulitan.
Mungkin ada rasa bersalah.
Mungkin ada rasa takut dinilai.
Mungkin ada dorongan untuk mengatakan,
Biar saya saja yang mengurusnya.
Saya tidak pernah bertanya apakah ia benar-benar berpikir seperti itu.
Tetapi saya mulai mengerti mengapa setiap kali Abiel berteriak, ia tidak pernah bisa pura-pura tidak mendengar.
Bagaimana mungkin?
Itu anaknya.
Pada masa itu saya sempat berpikir bahwa solusi paling sederhana adalah meminta ibu mulai pergi.
Sedikit demi sedikit.
Bukankah Abiel harus belajar mandiri?
Bukankah anak harus dibiasakan?
Kalimat seperti itu sangat mudah muncul di kepala seorang guru.
Kita belajar tentang kemandirian.
Kita membuat target.
Kita menyusun langkah.
Kita berpikir, jika perilaku tertentu terus diperkuat, maka kebiasaan itu akan terus bertahan.
Secara logika, semuanya terdengar masuk akal.
Tetapi hidup tidak selalu mau mengikuti logika yang kita susun di atas kertas.
Saya mulai menyadari bahwa meminta ibu pergi bukan sekadar memindahkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain.
Kami sedang meminta seorang ibu untuk meninggalkan anak yang selama ini selalu ia jaga.
Seorang anak yang belum bisa mengatakan apa yang ia rasakan.
Seorang anak yang ketika panik bisa berteriak dan memukul.
Seorang anak yang bahkan untuk makan pun masih membutuhkan bantuan.
Meninggalkan Abiel bukan tindakan kecil bagi ibunya.
Itu adalah sebuah kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak bisa diminta hanya dengan kalimat, “Tidak apa-apa, Bu. Nanti kami yang jaga.”
Ia perlu melihat sendiri bahwa kami benar-benar bisa menjaga.
Ia perlu yakin bahwa ketika Abiel berteriak, kami tidak akan marah kepadanya.
Ia perlu percaya bahwa ketika tangan Abiel bergerak dan mengenai orang lain, kami tidak akan langsung menyebut anaknya nakal.
Mungkin, lebih dari itu, ia perlu tahu bahwa di sekolah ini ada orang lain yang mau belajar memahami Abiel sebagaimana ia selama ini mencoba memahaminya.
Saya baru menyadari itu belakangan.
Pada waktu itu, kami sama-sama sedang belajar.
Ada pagi-pagi ketika saya melihat ibu mencoba menjauh.
Tidak jauh.
Hanya cukup agar Abiel tidak langsung melihatnya.
Saya sering memperhatikan apa yang terjadi setelah itu.
Beberapa detik pertama kadang masih aman.
Abiel berada di tempatnya.
Lalu seperti ada sesuatu yang berubah.
Kepalanya terangkat.
Ia mencari.
Tidak ada kata “Ibu” yang keluar.
Tidak ada pertanyaan, “Ibu ke mana?”
Abiel tidak mempunyai kalimat itu.
Yang datang justru suara yang sudah kami kenal.
Teriakan.
Ibu mendengarnya.
Saya tahu ia mendengarnya.
Kadang ia masih mencoba menahan diri.
Tetapi semakin suara itu meninggi, semakin sulit baginya untuk tetap diam.
Dan jika keadaan mulai mengarah pada pukulan, ia kembali.
Abiel tenang.
Siklus itu selesai.
Untuk hari itu.
Besok bisa terulang lagi.
Saya pernah membayangkan betapa berbeda sekolah bagi anak-anak lain.
Banyak orang tua mengantar sampai gerbang.
Anak turun.
Masuk.
Orang tua pulang.
Selesai.
Tidak ada yang istimewa.
Tetapi bagi ibu Abiel, meninggalkan sekolah adalah sebuah proses.
Ia tidak hanya berpamitan kepada anaknya.
Ia harus meninggalkan kekhawatirannya di sana.
Dan saat itu, ia belum mampu.
Saya tidak bisa menyalahkannya.
Semakin saya mengenal Abiel, semakin saya memahami bahwa rasa sayang kadang mempunyai bentuk yang membingungkan.
Kita ingin anak mandiri, tetapi tangan kita terus terulur sebelum ia sempat mencoba.
Kita ingin anak berani, tetapi hati kita belum siap melihatnya kesulitan.
Kita ingin suatu hari ia bisa tanpa kita, tetapi ketika hari itu mulai mendekat, justru kita yang takut.
Bukan karena kita tidak percaya kepada anak.
Kadang karena kita terlalu tahu betapa sulit hidupnya.
Saya mulai berbicara lebih sering dengan ibunya.
Bukan pembicaraan resmi.
Tidak ada meja rapat.
Tidak ada lembar program.
Kadang hanya percakapan pendek di sela-sela kegiatan.
Tentang Abiel.
Tentang apa yang terjadi ketika ia tidak melihat ibunya.
Tentang kekhawatiran kalau ia memukul teman.
Tentang harapan bahwa suatu hari ia bisa ditinggal.
Saya mulai menangkap satu hal yang sangat penting.
Ibunya tidak pernah mengatakan bahwa ia ingin terus menunggu Abiel selamanya.
Justru sebaliknya.
Ia ingin anaknya mandiri.
Keinginannya sederhana, tetapi bagi mereka tidak sederhana untuk dicapai.
Ia ingin bisa mengantar Abiel ke sekolah tanpa harus duduk menunggu sampai kegiatan selesai.
Ia ingin percaya bahwa ketika dirinya tidak ada, Abiel tetap baik-baik saja.
Mungkin sebagian orang menganggap itu target kecil.
Bagi kami, saat itu rasanya sangat jauh.
Setelah beberapa waktu, saya mulai melihat kursi tempat ibu menunggu dengan cara yang berbeda.
Awalnya kursi itu hanya tempat duduk.
Kemudian ia seperti menjadi bagian dari rutinitas Abiel.
Ada ibu di sana.
Berarti aman.
Ada ibu di sana.
Berarti tidak perlu panik.
Ada ibu di sana.
Berarti dunia masih seperti yang dikenalnya.
Saya sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau suatu hari kursi itu kosong?
Apakah Abiel akan berteriak lebih keras?
Apakah ia akan memukul?
Apakah kami mampu menenangkannya?
Atau justru, suatu hari nanti, ia akan masuk kelas tanpa memeriksa siapa yang duduk di sana?
Saat itu saya tidak tahu.
Yang saya tahu, kami belum bisa langsung mengosongkan kursi itu.
Terlalu cepat.
Kami harus membuat jaraknya sedikit demi sedikit.
Bukan hanya jarak antara Abiel dan ibunya.
Tetapi juga jarak antara ketakutan dan kepercayaan.
Suatu pagi, setelah keadaan cukup tenang, saya melihat Abiel.
Ia tidak berteriak.
Ibunya masih ada di tempatnya.
Abiel menunduk seperti biasa.
Tidak ada sesuatu yang istimewa.
Tetapi saya mulai melihat pemandangan itu sebagai sebuah awal.
Bukan akhir.
Ibu masih harus duduk di sana.
Hari itu, mungkin besok, mungkin beberapa hari lagi.
Tidak apa-apa.
Kami belum sedang berlomba.
Kami hanya sedang mencoba menemukan cara agar suatu hari nanti, ketika ibu berdiri lalu pergi, Abiel tidak merasa bahwa dunianya ikut pergi bersamanya.
Dan mungkin, pada saat yang sama, kami juga harus membuat ibunya percaya bahwa ketika ia meninggalkan kursi itu kosong, anaknya tidak ditinggalkan sendirian.
Ada kami.
Ada sekolah.
Ada orang-orang yang masih belajar memahami bahasa Abiel.
Perjalanan itu belum benar-benar dimulai.
Tetapi untuk pertama kalinya, saya bisa membayangkan tujuannya.
Suatu hari nanti, kursi tempat ibu menunggu itu harus kosong.
Bukan karena kami tidak membutuhkan seorang ibu.
Melainkan karena Abiel sudah cukup percaya bahwa meskipun ibunya tidak duduk di sana, ia tetap aman.